Rupiah Tembus Rp18.074, Tekanan Global Kian Berat

SULSELTA.NET, Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Rupiah tercatat berada di level Rp18.074 per dolar AS pada perdagangan pagi, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tekanan yang berlangsung selama beberapa hari terakhir. Lonjakan harga minyak dunia, kekhawatiran terhadap arus modal asing, serta sentimen penghindaran risiko oleh investor global menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan mata uang Indonesia.

Berdasarkan laporan Investortrust, rupiah berada di posisi Rp18.074 per dolar AS sekitar pukul 09.40 WIB. Sebelumnya, laporan Infobanknews mencatat rupiah dibuka melemah ke level Rp18.076 per dolar AS.

Kronologi Pelemahan Rupiah

Tekanan terhadap rupiah semakin meningkat sejak Rabu (21/10/2026), ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi dilaporkan menjadi salah satu pemicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga melampaui US$112 per barel.

Kenaikan harga energi menimbulkan kekhawatiran terhadap meningkatnya biaya impor minyak Indonesia. Kondisi ini berpotensi menambah kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor sekaligus memberikan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan.

Memasuki Kamis (22/10/2026), rupiah kembali menghadapi tekanan. Berdasarkan laporan FXStreet, mata uang Indonesia ditutup pada posisi Rp18.045 per dolar AS, melemah sekitar 0,25 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan berlangsung meskipun indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mengalami penurunan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berkaitan dengan pergerakan dolar AS, tetapi juga dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap risiko ekonomi global.

Pada Jumat (23/10/2026), pelemahan berlanjut. Rupiah dilaporkan dibuka pada posisi Rp18.076 per dolar AS, kemudian bergerak ke level Rp18.074 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Angka penutupan Kamis yang digunakan sejumlah media memiliki perbedaan acuan. Meski demikian, laporan pasar menunjukkan rupiah masih berada dalam tekanan menjelang akhir pekan.

Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang membayangi nilai tukar rupiah.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, Indonesia menghadapi risiko meningkatnya kebutuhan valuta asing ketika harga energi internasional melonjak.

Selain berpotensi memperbesar biaya impor, kenaikan harga minyak juga dapat memengaruhi inflasi dan meningkatkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut mendorong investor global mengurangi penempatan dana pada aset berisiko.

Dalam kondisi demikian, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan.

Arus Modal Asing Jadi Perhatian

Selain faktor energi, pergerakan modal asing turut menjadi perhatian pelaku pasar keuangan.

Meningkatnya ketidakpastian global berpotensi mendorong investor menarik sebagian dana dari pasar negara berkembang.

Di dalam negeri, pasar juga mencermati perkembangan konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia.

Perkembangan ini menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor karena berpotensi memengaruhi keputusan penempatan dana pada instrumen investasi domestik.

Sementara itu, arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan mata uang global.

Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar dan arus modal internasional.

Bank Indonesia Jaga Stabilitas

Di tengah meningkatnya tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Bank sentral menggunakan instrumen kebijakan moneter dan stabilisasi pasar valuta asing untuk meredam gejolak yang berlebihan.

Upaya stabilisasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan global, perkembangan inflasi, serta kebutuhan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Meski demikian, pergerakan rupiah masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal yang berada di luar kendali kebijakan moneter domestik.

Mata Uang Asia Ikut Tertekan

Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia.

Pada perdagangan Jumat pagi, yen Jepang dilaporkan melemah 0,03 persen, rupee India turun 0,38 persen, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,01 persen.

Dolar Singapura dan baht Thailand juga mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,13 persen.

Namun, tidak seluruh mata uang Asia bergerak negatif. Won Korea Selatan tercatat menguat 0,26 persen, sedangkan peso Filipina naik 0,13 persen.

Pergerakan ini memperlihatkan bahwa respons mata uang kawasan terhadap perkembangan ekonomi global tidak sepenuhnya seragam.

Rupiah Berpotensi Masih Berfluktuasi

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko di pasar global.

Menurut analisisnya, kekhawatiran terhadap pembiayaan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kondisi fiskal Prancis turut memengaruhi sentimen pasar.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan Jumat.

Namun, proyeksi itu bukan kepastian karena pergerakan nilai tukar sangat bergantung pada perkembangan sentimen dan transaksi pasar.

Pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati harga minyak dunia, arah kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia.

Posisi Rp18.074 per dolar AS yang tercatat pada Jumat pagi juga belum mencerminkan nilai tukar pada penutupan perdagangan.