SULSELTA.NET, Makassar — Pemerintah Kota Makassar menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan sejak 7 Agustus 2026. Berdasarkan data terbaru hasil asesmen cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, sebanyak 24.243 jiwa tercatat terdampak krisis air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menjelaskan penetapan status tanggap darurat dilakukan berdasarkan hasil Asesmen Kajian Cepat terhadap dampak kekeringan di sejumlah wilayah.
Hasil asesmen terbaru mencatat terdapat 173 titik kekeringan yang tersebar di 27 kelurahan dan enam kecamatan. Enam kecamatan yang menjadi prioritas penanganan yakni Tallo, Ujung Tanah, Tamalanrea, Biringkanaya, Panakkukang, dan Manggala. Kelurahan Buloa di Kecamatan Tallo tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kondisi kekeringan paling parah.
Data terbaru tersebut menunjukkan perkembangan dari asesmen sebelumnya. Data BPBD per 5 Agustus 2026 sempat mencatat 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga terdampak krisis air bersih di enam kecamatan. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan pembaruan hasil asesmen BPBD, sehingga data terbaru 24.243 jiwa digunakan untuk menggambarkan kondisi terkini.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, BPBD bersama pemangku kepentingan terkait melakukan distribusi air bersih melalui Posko Tanggap Darurat. Penyaluran menggunakan armada tangki menyasar sekitar 20 hingga 30 titik setiap hari.
Selain distribusi langsung, pemerintah juga menempatkan tandon air di sejumlah wilayah terdampak. Dalam tahap penanganan sebelumnya, sebanyak 17 tandon ditempatkan di Kecamatan Ujung Tanah, 10 tandon di Tallo, dan delapan tandon di Biringkanaya.
Pemerintah Kota Makassar juga menyiapkan solusi sumber air alternatif. Dinas Pekerjaan Umum mengalokasikan pembangunan 18 titik sumur dalam, dengan tiga titik dilaporkan telah siap. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap distribusi air menggunakan mobil tangki.
Kekeringan yang melanda Makassar terjadi bersamaan dengan musim kemarau dan fenomena El Nino. BMKG Wilayah IV Makassar sebelumnya menyebut El Nino pada 2026 berada dalam kategori kuat dan diprediksi dapat berkembang menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut membuat kekeringan tahun ini dinilai lebih ekstrem dibandingkan 2023.
BPBD sebelumnya memperkirakan periode kekeringan dapat berlangsung hingga beberapa bulan. Karena itu, status tanggap darurat digunakan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan mempercepat penanganan kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak.
Pemerintah dan instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kekeringan serta menyesuaikan distribusi bantuan berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan masyarakat di lapangan. (*/Red)







