Inflasi Sulsel Juni 2026 Capai 3,56 Persen, Emas dan Pangan Jadi Pemicu

SULSELTA.NET, Makassar — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Sulawesi Selatan pada Juni 2026 mencapai 3,56 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,06. Kenaikan harga dipicu oleh lonjakan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama komoditas emas perhiasan, serta meningkatnya harga sejumlah bahan pangan strategis.

Kepala BPS Sulawesi Selatan, Aryanto, menjelaskan bahwa selain inflasi tahunan, Sulawesi Selatan juga mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,36 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Juni 2026 tercatat sebesar 2,54 persen, yang menunjukkan tekanan harga masih terjadi pada berbagai kelompok pengeluaran masyarakat.

BPS mencatat sebelas dari dua belas kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 10,48 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,69 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,10 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok transportasi, informasi dan komunikasi, pendidikan, kesehatan, perlengkapan rumah tangga, perumahan, rekreasi, hingga perlengkapan rumah tangga.

Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 0,77 persen. Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah kebutuhan perawatan pribadi seperti pasta gigi, bedak, dan sabun mandi yang turut mendorong peningkatan indeks harga konsumen.

Dari kelompok pangan, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi antara lain ikan layang atau benggol, tomat, cabai rawit, daging ayam ras, beras, minyak goreng, bawang merah, serta sigaret kretek mesin. Komoditas-komoditas tersebut menjadi penyumbang utama kenaikan harga di berbagai daerah di Sulawesi Selatan selama Juni 2026.

Secara kewilayahan, seluruh daerah pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulawesi Selatan mengalami inflasi. Kabupaten Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,32 persen dengan IHK 113,76, sedangkan Kabupaten Bulukumba menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 2,57 persen dengan IHK 110,54.

Di tengah kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, kelompok pakaian dan alas kaki menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar 0,42 persen, sehingga menjadi penahan laju inflasi pada Juni 2026.

Data BPS menunjukkan inflasi Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 masih berada dalam sasaran pengendalian inflasi pemerintah. Perkembangan tersebut menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga serta ketersediaan pasokan barang pada semester kedua tahun 2026.

Editor :
Albar Arianto

banner 120x600