Daerah  

Penyuluh Kehutanan Diperkuat Hadapi Karhutla

SULSELTA.NET, Makassar — Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah VI berkolaborasi dengan Sekretariat BP2SDM Kementerian Kehutanan menggelar Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Harper, Makassar, Rabu, 23 September 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran penyuluh kehutanan dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Sulawesi Selatan.

Temu teknis diikuti sekitar 100 peserta. Sebanyak 80 peserta merupakan penyuluh kehutanan dari UPT Kementerian Kehutanan serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulawesi Selatan. Sementara 20 peserta lainnya berasal dari berbagai instansi kehutanan dan Tim Manggala Agni.

Kegiatan itu turut dihadiri perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV.

Kepala Balai P2SDM Wilayah VI, Kamaruddin, S.Hut.T., menyampaikan kegiatan tersebut diinisiasi untuk mendukung pencapaian target strategis Indonesia FOLU Net Sink 2030, khususnya Rencana Operasional (RBC) 2 dan 3 yang berfokus pada pengurangan laju deforestasi dan degradasi hutan akibat kebakaran.

Menurutnya, penguatan kapasitas penyuluh diperlukan karena mereka menjadi ujung tombak pembangunan kehutanan di tingkat tapak.

Plt. Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan, drh. Indra Exploitasia, M.Si., menekankan bahwa penyuluh kehutanan perlu berperan sebagai agen perubahan yang responsif, bukan hanya sebagai penyampai informasi.

Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini terhadap prediksi bencana El Nino yang diperkirakan berlanjut pada 2026 hingga 2027.

Indra mendorong penyuluh mengidentifikasi sumber air dan membangun embung sebagai bagian dari langkah awal pencegahan karhutla. Penyuluh juga diminta memetakan penyebab masyarakat masih melakukan pembakaran lahan, terutama di wilayah yang berulang kali mengalami kebakaran.

Selain itu, penyuluh didorong memperkuat edukasi mengenai pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB). Langkah preemtif dinilai penting untuk mencegah potensi kebakaran sejak dari sumbernya.

Indra juga menekankan pentingnya pemanfaatan data hot spot atau titik panas dari Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut). Penyuluh diminta mengidentifikasi kelompok tani hutan yang berada di sekitar titik panas.

Jika belum terdapat kelompok masyarakat atau Masyarakat Peduli Api (MPA), penyuluh didorong untuk membentuk dan mendampinginya. Perubahan perilaku masyarakat menuju pembukaan lahan yang ramah lingkungan juga perlu dicatat sebagai bagian dari tugas penyuluh.

Dalam sesi pemaparan materi yang dipandu Widyaiswara Balai P2SDM Wilayah VI, Sudirman Sultan, SP., MP., kegiatan menghadirkan tiga narasumber.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sulawesi, Era Isdhiartanto, S.Hut., M.Eng., membawakan materi tentang kebijakan dan strategi mitigasi karhutla. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi bertahan hingga 2027.

Sementara itu, Widyaiswara Balai P2SDM Wilayah VI, Dr. Pemilu Arman Labahi, menyampaikan materi mengenai tindakan preemtif dalam pengendalian karhutla. Ia menekankan pentingnya pemahaman penyuluh terhadap budaya, bahasa, dan karakter masyarakat setempat.

Ia juga mendorong pemanfaatan media sosial dan metode anjangsana secara rutin untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan tanpa menggunakan api.

Kabid Perhutanan Sosial DLHK Sulsel, Hidayat, S.Hut., M.Si., yang mewakili Kepala Dinas, menyampaikan materi mengenai peran strategis penyuluh kehutanan dalam pencegahan karhutla.

Ia menekankan perlunya keterampilan teknis serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai bagi penyuluh karena mereka berhadapan langsung dengan kondisi kebakaran di lapangan.

Sesi diskusi juga diisi evaluasi lapangan dari tiga penyuluh kehutanan, yakni Syamsu Rizal dari KPH Ajatapareng, Mahmud dari Dinas LHK Sulsel, dan Kadir dari BPDAS Jeneberang-Saddang.

Mereka menyampaikan sejumlah kendala dalam penanganan karhutla yang berulang, antara lain keterbatasan anggaran, kebutuhan penguatan koordinasi sektoral, pelatihan intensif, serta penegakan hukum.

Selain materi, peserta mengikuti simulasi pemadaman kebakaran pada sesi sore di halaman kantor Balai P2SDM Wilayah VI. Simulasi dipandu Tim Manggala Agni Balai Dalkarhut Wilayah Sulawesi bersama Widyaiswara Wahyuni Thamal, S.Hut., M.ForEcosys.Sc.

Dalam simulasi tersebut, para penyuluh diperkenalkan dengan alat pemadam dan mempraktikkan teknik pemadaman api secara langsung.

Kegiatan Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan kemudian ditutup oleh Kepala Balai P2SDM Wilayah VI. Kegiatan diharapkan dapat memperluas edukasi kepada masyarakat dan membantu meminimalkan titik api.

Penguatan sinergi lintas sektor dan peningkatan kapasitas teknis penyuluh diharapkan turut mendukung upaya Sulawesi Selatan dalam menekan emisi akibat karhutla serta mendukung target Indonesia FOLU Net Sink 2030. (*/Red)

banner 120x600