SULSELTA.NET, Makassar — Sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) dilaporkan kehilangan kapasitas pembangkit hingga 650 megawatt (MW) akibat menurunnya kemampuan sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sulawesi Selatan.
Dalam rekonstruksi rilis PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Sulawesi, pemantauan teknis mulai dilakukan pada pukul 08.00 WITA di sejumlah infrastruktur utama, termasuk PLTA Bakaru, PLTA Poso yang terhubung dalam sistem interkoneksi, serta PLTA Bila.
Hasil audit debit air dan pemantauan waduk menunjukkan tinggi muka air telah berada pada level minimum. Kondisi itu disebut dipengaruhi tidak adanya curah hujan ekstrem dalam beberapa pekan terakhir di wilayah tangkapan air.
Pada pukul 11.30 WITA, PLN merilis bahwa sistem Sulbagsel kehilangan kapasitas pembangkit hingga 650 MW dari potensi normalnya. Penurunan tersebut berdampak pada pasokan energi hidro yang selama ini menjadi salah satu penopang beban puncak regional.
Menghadapi kondisi itu, PLN mengaktifkan prosedur darurat pada pukul 14.00 WITA. Langkah yang dilakukan meliputi optimalisasi pembangkit listrik tenaga surya pada siang hari dan pengisian Battery Energy Storage System (BESS) untuk menghadapi peningkatan kebutuhan listrik pada malam hari.
Menjelang waktu beban puncak, sekitar pukul 17.30 WITA, PLN mengumumkan skenario manajemen beban. Masyarakat dan sektor industri diimbau menghemat penggunaan listrik, terutama pada pukul 18.00 hingga 22.00 WITA.
Penghematan dapat dilakukan dengan mematikan peralatan listrik yang tidak diperlukan untuk membantu menjaga keandalan sistem serta menghindari gangguan pasokan listrik yang lebih luas. (*/Red)







