SULSELTA.NET, Makassar — Atlet dan pelatih sepak bola serta futsal putri mendatangi Kantor Sementara DPRD Sulawesi Selatan di Makassar, Selasa, 22 September 2026. Mereka memprotes keputusan pencoretan dua cabang olahraga tersebut dari agenda Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulsel XVIII Bone-Wajo 2026.
Aksi itu dilakukan setelah Pemerintah Provinsi Sulsel bersama KONI Sulsel memutuskan tidak mempertandingkan sepak bola putri dan futsal putri dalam Porprov. Keputusan itu disebut diambil dengan alasan efisiensi serta keterbatasan anggaran menjelang pembukaan Porprov yang dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2026.
Para atlet dan tim pelatih menilai pencoretan tersebut dilakukan saat persiapan daerah telah berjalan. Sejumlah kabupaten dan kota sebelumnya telah menggelar seleksi, pemusatan latihan mandiri, hingga menuntaskan pembagian grup bagi delapan tim yang lolos kualifikasi.
Pelatih sepak bola putri, Usman, menyampaikan keputusan itu berpotensi memengaruhi mental para pemain yang telah mempersiapkan diri. Tokoh olahraga putri, Mardiana, juga menilai kebijakan tersebut tidak berpihak pada kesetaraan kesempatan atlet perempuan dalam kompetisi daerah.
Dalam aksi di DPRD Sulsel, massa menuntut agar hak bertanding atlet putri dikembalikan dan dua cabang olahraga tersebut tetap dipertandingkan dalam Porprov XVIII Bone-Wajo 2026. Mereka menyoroti waktu, tenaga, dan biaya yang telah dikeluarkan tim daerah selama masa persiapan.
Perwakilan DPRD Sulsel yang menerima aspirasi massa menyatakan akan memanggil Dinas Pemuda dan Olahraga Sulsel serta KONI Sulsel. Pemanggilan itu dijadwalkan untuk meminta penjelasan mengenai dasar keputusan, kondisi anggaran, serta langkah penyelesaian bagi atlet sepak bola dan futsal putri.
Perkembangan hasil pertemuan DPRD Sulsel dengan Dispora dan KONI Sulsel masih ditunggu sebagai penentu nasib dua cabang olahraga putri tersebut pada Porprov Sulsel 2026. (*/Red)







