BI Sulsel Waspadai El Nino, Harga Beras Terancam Naik

SULSELTA.NET, Makassar — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan mengingatkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mewaspadai penurunan produksi pertanian di tengah ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu pasokan pangan dan mendorong kenaikan harga beras.

Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menilai sektor pertanian menjadi salah satu bagian penting yang perlu dijaga karena memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Sulawesi Selatan.

Pada triwulan II 2026, perekonomian Sulsel tumbuh 5,59 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 6,88 persen.

Salah satu faktor yang turut memengaruhi perlambatan tersebut adalah kontraksi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan akibat penurunan produksi padi.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebelumnya tercatat memiliki kontribusi 23,01 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel pada 2025. Kondisi itu membuat gangguan produksi pertanian berpotensi berdampak luas terhadap perekonomian daerah.

BI Sulsel menilai risiko tersebut semakin perlu diantisipasi menyusul potensi El Nino. Fenomena tersebut dikhawatirkan mengganggu produktivitas pertanian dan menekan pasokan komoditas pangan, terutama beras.

Rizki dalam agenda Pelatihan Wartawan Sulawesi Selatan di Bali pada 27 Agustus 2026 mengingatkan bahwa El Nino membahayakan sektor pertanian. Menurut dia, harga beras berpotensi meningkat apabila penurunan pasokan tidak diantisipasi melalui intervensi pemerintah, termasuk peran Bulog.

Gangguan pasokan pangan juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi daya beli masyarakat. Karena itu, pengendalian harga pangan menjadi perhatian pemerintah daerah bersama BI.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BI Sulsel mendorong mitigasi dilakukan sejak sisi produksi. Langkah yang dinilai penting meliputi penyediaan embung, pompa air dan sumur bor serta perbaikan jaringan irigasi guna menjaga produktivitas pertanian ketika terjadi gangguan cuaca.

Penguatan rantai pasok juga diperlukan melalui penyerapan dan penyimpanan hasil produksi serta kelancaran distribusi pangan antardaerah.

Selain itu, BI mendorong perluasan areal tanam dan gerakan menanam komoditas pangan strategis. Peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) juga didorong sebagai offtaker untuk membantu penyerapan hasil produksi petani.

BI Sulsel turut mendorong fasilitasi distribusi pangan, subsidi ongkos angkut, dan kerja sama antardaerah guna mengurangi kesenjangan harga sekaligus menjaga pasokan.

Pemantauan stok dan harga pangan di 24 kabupaten/kota juga diperkuat melalui neraca pangan yang dilengkapi sistem peringatan dini atau early warning system untuk mendeteksi potensi kenaikan harga.

Upaya tersebut dikoordinasikan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.

BI Sulsel menilai penguatan produksi dan rantai pasok menjadi penting agar ancaman El Nino tidak berkembang menjadi gangguan pasokan yang kemudian memicu gejolak harga pangan dan menekan daya beli masyarakat. (*/Red)

banner 120x600