El Niño Menguat, Kemarau Ancam Indonesia

SULSELTA.NET, Jakarta — Kondisi iklim global menunjukkan tekanan yang semakin kuat seiring tingginya suhu Bumi dan menguatnya fenomena El Niño. Di Indonesia, situasi tersebut bertepatan dengan meluasnya musim kemarau yang meningkatkan risiko kekeringan meteorologis serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Dasarian II Agustus 2026 sebanyak 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim (ZOM) telah mengalami musim kemarau. Sebagian besar wilayah juga mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan di bawah normal.

Kondisi kering tersebut turut terjadi di Sulawesi Selatan. BMKG mencatat sebagian besar wilayah Sulsel telah memasuki musim kemarau, sementara sejumlah kabupaten dan kota berada dalam kategori peringatan dini kekeringan meteorologis.

Hasil pemantauan BMKG pada Dasarian II Agustus menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,99 derajat Celsius. Kondisi tersebut menunjukkan El Niño telah berada pada intensitas sangat kuat.

El Niño berpengaruh terhadap berkurangnya pasokan uap air ke sejumlah wilayah Indonesia sehingga dapat memperkuat kondisi kering selama musim kemarau. Indian Ocean Dipole (IOD) juga menunjukkan kecenderungan positif yang dapat semakin mendukung berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.

BMKG sebelumnya memprakirakan puncak musim kemarau 2026 paling banyak terjadi pada Agustus, yakni mencakup 48,84 persen wilayah berdasarkan Zona Musim. Puncak kemarau kemudian berlanjut pada September dengan cakupan sekitar 25,41 persen.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, keterbatasan ketersediaan air, serta karhutla. Dalam periode 25 hingga 27 Agustus 2026 saja, tercatat sedikitnya 15 kejadian karhutla di delapan provinsi. Di Sulawesi Selatan, kejadian dilaporkan di Kabupaten Pinrang, Enrekang, dan Sidenreng Rappang.

BMKG memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas serta mendorong koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla.

Ancaman tersebut juga berkaitan dengan kondisi iklim global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan El Niño kuat terus berkembang dan diperkirakan semakin menguat selama periode Agustus hingga Oktober 2026. Kondisi itu meningkatkan peluang suhu di atas normal di berbagai wilayah dunia sekaligus memengaruhi pola curah hujan.

Dalam perspektif perubahan iklim jangka panjang, WMO mencatat 2015–2025 merupakan 11 tahun terpanas dalam sejarah pengamatan. Tahun 2024 masih menjadi tahun terpanas dengan suhu rata-rata global sekitar 1,55 derajat Celsius di atas rata-rata periode praindustri 1850–1900, sedangkan suhu global 2025 tercatat sekitar 1,43 derajat Celsius di atas periode tersebut.

WMO menilai tingginya suhu global dalam jangka panjang berkaitan dengan akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer. El Niño kemudian dapat memberikan tambahan pengaruh terhadap kenaikan suhu serta meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem.

Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kemarau, terutama dengan menjaga ketersediaan dan penggunaan air secara bijak serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan maupun lahan.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk terus mengikuti informasi cuaca dan iklim terbaru karena kondisi atmosfer dapat berkembang dan berbeda antarwilayah. (*/Red)

banner 120x600