SULSELTA.NET, Makassar — Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin meninjau Kompleks Kusta Jongaya, RW 04, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sabtu (11/7/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Nasional Percepatan Eliminasi Kusta 2026 sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesia bebas kusta pada 2030.
Dalam kunjungan itu, Menkes didampingi Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar dr. Nursaidah Sirajuddin, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, perwakilan WHO Indonesia, serta Chairman The Nippon Foundation/Sasakawa Health Foundation, Yohei Sasakawa.
Pemerintah menegaskan bahwa kusta bukan merupakan kutukan, melainkan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan melalui deteksi dini dan pengobatan yang tuntas. Karena itu, masyarakat diimbau tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.
Sebagai langkah mempercepat eliminasi kusta, Kementerian Kesehatan memasukkan skrining kusta ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan rantai penularan dapat diputus lebih dini.
Selain meninjau kondisi permukiman dan layanan kesehatan di Kompleks Kusta Jongaya, Menkes juga berdialog dengan warga serta menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).
Pemerintah menilai, dukungan sosial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan sehingga penyintas dapat kembali beraktivitas tanpa diskriminasi.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes turut menyerahkan bantuan kepada warga sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut. Namun, rincian jenis dan jumlah bantuan belum dijelaskan secara terperinci dalam keterangan resmi pemerintah.
Kunjungan ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi internasional, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam mempercepat eliminasi kusta melalui penemuan kasus aktif, pengobatan yang tuntas, serta penghapusan stigma sosial terhadap penyintas penyakit tersebut. (*)
Editor :
Albar Arianto







