Fathimah Azzahra, Potret Mahasiswa Kritis dan Berprestasi

SULSELTA.NET, Jakarta — Fathimah Azzahra tidak hanya berdiri di depan barisan demonstrasi. Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2026 itu membawa satu hal yang seharusnya melekat pada gerakan mahasiswa: keberanian menyampaikan kritik dengan argumentasi.

Namanya menjadi perhatian publik setelah tampil dalam sejumlah forum dan aksi mahasiswa yang mengkritisi kebijakan pemerintah. Sorotan semakin besar ketika Fathimah berada di garis depan aksi mahasiswa di kawasan Sudirman-Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada 18 Agustus 2026.

Dalam aksi tersebut, Fathimah memimpin orasi dan berhadapan langsung dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung ketika pergerakan mahasiswa tertahan barikade kepolisian.

Fathimah mempertanyakan sikap aparat yang menggunakan mobil komando dan pengeras suara, sementara mahasiswa disebut tidak mendapatkan ruang yang sama.

Adu argumentasi itu kemudian menjadi salah satu bagian aksi yang mendapat perhatian publik. Namun, di tengah ketegangan tersebut, Fathimah tidak memilih membawa massa ke dalam konfrontasi yang lebih jauh.

Ketika situasi dinilai berpotensi membahayakan peserta aksi, ia memilih tidak memaksakan mahasiswa menerobos menuju Bundaran HI. Keselamatan peserta demonstrasi ditempatkan sebagai pertimbangan utama.

Sikap tersebut memperlihatkan sisi lain kepemimpinan dalam aksi mahasiswa. Keberanian menyampaikan tuntutan tidak harus berakhir dengan tindakan yang membahayakan massa yang dipimpin.

Mahasiswa dalam aksi itu membawa delapan tuntutan terkait berbagai persoalan nasional. Di antaranya penghentian korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), pelaksanaan reforma agraria, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), serta evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN).

Tuntutan lainnya mencakup penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), penghentian pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), percepatan pemulihan daerah terdampak bencana, serta penghentian represivitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil.

Fathimah sebelumnya juga mendapat perhatian setelah menyampaikan kritik terhadap program MBG. Kritik tersebut tidak berhenti pada penolakan, tetapi disertai argumentasi mengenai prioritas kebijakan, persoalan pendidikan, hingga kondisi infrastruktur di sejumlah wilayah.

Di balik aktivitasnya di jalan dan ruang diskusi, Fathimah memiliki perjalanan akademik yang menonjol.

Ia tercatat sebagai mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Kelas Khusus Internasional (KKI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan 2023. Ia diterima melalui jalur Talent Scouting setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 3 Depok.

Prestasinya juga tercatat dalam bidang penelitian. Pada Mei 2025, Fathimah meraih Juara I Kompetisi Riset Nasional dalam The 17th Liver Update melalui penelitian di bidang hepatologi.

Aktivitas organisasinya telah berlangsung sebelum menjabat Wakil Ketua BEM UI. Fathimah pernah menjadi Head of Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FKUI serta terlibat dalam organisasi kemahasiswaan di lingkungan UI.

Perjalanan tersebut membuat sosok Fathimah menarik bukan semata-mata karena video perdebatan dengan aparat menjadi viral.

Ia menunjukkan bahwa aktivitas akademik, penelitian, organisasi, dan keberanian menyampaikan kritik dapat berjalan beriringan dalam kehidupan seorang mahasiswa.

Di tengah derasnya perdebatan politik di media sosial, kemunculan mahasiswa yang bersedia membawa argumentasi ke ruang publik juga mengingatkan kembali fungsi mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki ruang untuk mengawasi, mempertanyakan, dan mengkritisi kebijakan.

Namun, kritik tetap harus berpijak pada data, disampaikan secara bertanggung jawab, serta terbuka terhadap perbedaan pandangan. Prinsip yang sama berlaku bagi setiap gerakan mahasiswa, termasuk kritik yang disampaikan Fathimah dan BEM UI.

Fathimah Azzahra pada akhirnya dapat menjadi salah satu contoh bahwa prestasi akademik tidak harus membuat mahasiswa berjarak dari persoalan masyarakat.

Menjadi mahasiswa bukan hanya mengejar nilai dan gelar. Ruang akademik juga memberi kesempatan untuk belajar berpikir kritis, menguji argumentasi, berorganisasi, serta berani menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

Viralitas bisa berlalu dalam hitungan hari. Namun, keberanian berpikir, prestasi, konsistensi belajar, dan kemampuan mempertanggungjawabkan setiap kritik merupakan nilai yang jauh lebih penting untuk diteladani. (*/Red)

banner 120x600