Daerah  

Pemadaman Bergilir Makassar, Pasokan Listrik Berkurang 125 MW

SULSELTA.NET, Makassar — Pemadaman listrik bergilir melanda sejumlah wilayah Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir. PT PLN (Persero) menyebut kondisi tersebut terjadi akibat pemeliharaan infrastruktur ketenagalistrikan yang berdampak pada berkurangnya pasokan daya dalam sistem.

Pemadaman mulai dikeluhkan warga sejak Minggu malam, 30 Agustus 2026, dan berlanjut pada Senin, 31 Agustus 2026. Sejumlah kawasan terdampak antara lain Abu Bakar Lambogo, Malengkeri, Daya, serta beberapa wilayah lainnya.

Durasi pemadaman berbeda di setiap lokasi. PLN sebelumnya memperkirakan pengaturan beban berlangsung sekitar dua jam per sesi, tetapi waktunya dapat berubah menyesuaikan kondisi sistem dan pekerjaan teknis di lapangan.

Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar, Niki Rendra Adisetiawan, menjelaskan pengaturan beban dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem selama berlangsungnya pemeliharaan infrastruktur ketenagalistrikan.

Memasuki Selasa, 1 September 2026, pemadaman bergilir masih berlangsung di Makassar dan sejumlah wilayah lain yang masuk dalam sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan.

PLN kemudian mengungkap salah satu persoalan yang memengaruhi ketersediaan pasokan berasal dari PLTU Independent Power Producer (IPP) Jeneponto.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menjelaskan pembangkit tersebut tengah menjalani pemeliharaan sehingga mengurangi pasokan listrik yang tersedia dalam sistem sebesar 125 megawatt (MW).

Menurut PLN, berkurangnya pasokan tersebut membuat pengaturan beban harus dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.

Di tengah pemadaman, kondisi debit air sejumlah sumber pembangkit listrik tenaga air juga menjadi perhatian. Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, sebelumnya menyampaikan bahwa permukaan air di PLTA Bakaru dan Bendungan Bili-Bili mengalami penurunan.

Namun, PLN menegaskan penurunan debit air tersebut bukan penyebab langsung pemadaman bergilir yang sedang berlangsung.

PLN menyatakan pemadaman saat ini berkaitan dengan kegiatan pemeliharaan fasilitas ketenagalistrikan. Meski debit air sejumlah sumber PLTA menurun karena minimnya hujan, kondisi tersebut disebut belum memberikan dampak signifikan terhadap produksi listrik.

Pemadaman bergilir turut berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Selain rumah warga dan tempat usaha, sejumlah lampu lalu lintas di Makassar sempat tidak berfungsi ketika pasokan listrik terputus.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Pemerintah Kota Makassar. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memanggil jajaran manajemen PLN UID Sulselrabar untuk membahas persoalan pemadaman listrik pada Selasa, 1 September 2026.

Munafri meminta penjelasan sekaligus langkah cepat PLN karena pemadaman berdampak terhadap aktivitas rumah tangga, dunia usaha, pelayanan publik, dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, Edyansyah memastikan sistem kelistrikan Sulselrabar masih dalam kondisi terkendali. PLN terus melakukan berbagai upaya menjaga kontinuitas pasokan sembari menunggu kapasitas pembangkit kembali masuk ke dalam sistem.

Berdasarkan informasi yang diterima PLN dari manajemen PLTU Jeneponto, pembangkit berkapasitas 125 MW tersebut ditargetkan kembali beroperasi normal paling lambat 5 September 2026.

Jika pembangkit tersebut kembali masuk ke sistem sesuai target, ketersediaan pasokan listrik diharapkan meningkat dan kondisi kelistrikan secara bertahap kembali normal.

PLN juga terus memantau kondisi cuaca dan sumber air sebagai langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. (*/Red)

banner 120x600