SULSELTA.NET, Luwu — Operasi penertiban Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Sungai Suso, Desa Marinding, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, berujung ricuh. Sejumlah personel Polres Luwu dilaporkan mengalami luka-luka, sementara sedikitnya tiga kendaraan dinas kepolisian mengalami kerusakan akibat aksi pelemparan batu oleh massa.
Peristiwa bermula pada Sabtu (1/8/2026) saat personel Satreskrim Polres Luwu yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Muhammad Ibnu Robbani mendatangi lokasi tambang ilegal di kawasan Sungai Suso. Saat tiba, aktivitas penambangan dilaporkan telah berhenti dan alat berat jenis ekskavator tidak lagi berada di lokasi.
Dalam operasi tersebut, petugas memusnahkan sejumlah pondok semipermanen dan talang emas (sluice box) yang ditinggalkan para penambang sebagai bagian dari penegakan hukum terhadap aktivitas PETI.
Pada Minggu (2/8/2026) dini hari, petugas kembali melakukan patroli penyisiran di sekitar area ring luar tambang. Saat rombongan kendaraan hendak meninggalkan lokasi, puluhan warga memblokade jalan dan mengepung iring-iringan kendaraan polisi sebagai bentuk protes atas pemusnahan fasilitas pelimbangan emas.
Situasi kemudian memanas. Petugas sempat melepaskan beberapa kali tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan massa. Namun, massa tidak membubarkan diri dan justru melempari kendaraan aparat menggunakan batu.
Akibat insiden tersebut, sejumlah personel Polres Luwu mengalami luka akibat lemparan batu dan pecahan kaca. Selain itu, sedikitnya tiga unit kendaraan dinas kepolisian mengalami kerusakan.
Untuk menghindari bentrokan yang lebih luas serta mencegah jatuhnya korban jiwa, aparat akhirnya memilih mundur secara taktis dari lokasi.
Penertiban itu merupakan bagian dari upaya kepolisian memberantas aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang selama ini berlangsung di kawasan Sungai Suso, Desa Marinding. Aktivitas tambang ilegal di wilayah tersebut sebelumnya menjadi sorotan karena diduga menimbulkan kerusakan lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai.
Di sisi lain, penertiban memicu penolakan dari sebagian warga yang menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas pelimbangan emas, sehingga memunculkan ketegangan di lapangan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah pasti personel yang mengalami luka, besaran kerugian akibat kerusakan kendaraan dinas, maupun tindak lanjut hukum terhadap pelaku penyerangan. (*/Red)








